Seringkali ketika kita berjalan di tepi jalan, di dekat pohon, dan di berbagai sudut tempat umum lainnya, kita tiba-tiba mencium bau yang tidak sedap. Bau pesing, bau yang ditinggalkan oleh seseorang yang kencing di daerah tersebut. Bahkan tak jarang pula kita melihat orang-orang tersebut melancarkan aksinya di tepi jalan, tanpa menghiraukan orang dan kendaraan yang lewat di sekitarnya. Apakah kencing di sembarang tempat telah menjadi budaya di Indonesia?
Gambar di atas saya ambil di tikungan dekat kost saya. Sebelumnya saya tidak terlalu memperhatikan hal tersebut. Namun, belakangan saya baru menyadari kalau ada bau pesing di daerah itu terutama tengah malam dan habis subuh. Meski ada tulisan tersebut, pelakunya tidak juga jera. Barangkali karena kejadiannya di waktu tengah malam, dia beralasan tidak bisa melihat tulisan tersebut kali ya ![]()
Mungkin akan ada yang bilang begini, “Suka-suka gue donk. ‘Itu’ kan punya gue sendiri!” Ya, saya paham. Tapi mbok ya mikir sedikit soal kesehatan dan kebersihan. Sebagai orang yang cinta kebersihan, saya sangat membenci hal tersebut. Dan sebagai orang yang cinta kesehatan, saya amat sangat membencinya. Kenapa? Agama saya mengajarkan untuk membersihkan kemaluan setelah buang air dengan menggunakan air yang bersih. Banyak kuman penyakit yang bisa menyebar jika tidak dibersihkan dengan air. Lha kalau sembarangan gitu ya mana sempat dibersihkan, paling-paling ya cuma disentil doank pake tangan ![]()
Eits, ternyata ada yang lebih parah. Gambar di bawah ini saya ambil waktu nongkrong di Stasiun Pasar Senen. Jelas-jelas itu tikungan yang ramai dilewati orang dari dan ke stasiun, jelas-jelas ada pula tulisan “YANG KENCING, ANJING” di situ. Eh, koq ya masih ada saja yang kencing sembarangan. Dan selama saya nongkrong di situ, ada 2-3 orang melakukan hal yang sama. Apa ga malu?





























